Langsung ke konten utama

TRANSPORTASI DI JAKARTA Menjemput Maut


Resenssi Buku

Judul Buku : TRANSPORTASI DI JAKARTA
Menjemput Maut
Karya : Darmaningtyas
Editor : Achmad Izzul Waro, Iman Rahmana
Cetakan : Pertama, 2010
Penerbit : Pustaka Yashiba kerjasama dengan INSTRAN

Berangkat dari minimnya kajian dan refrensi mengenai masalah transportasi itulah penulisan buku (laporan) tentang transportasi di Jakarta ini dilakukan guna mengisi kekosongan yang ada. Buku ini berangkat dari laporan kegiatan yang dilakukan oleh LPIST (Lemabaga Pengembangan Inisiatif Strategis untuk Transformasi) pada periode 1996 – 1999, ketika penulis dan Ayi Bunyamin mencoba intens mencermati perkembangan transportasi di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.
Atas dukungan dana dari NOVIB (Belanda) melalui REMDEC saat itu (1996), LPIST melakukan studi tentang isu perkotaan di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Dari hasil studi tersebut salah satu yang menonjol adalah isu transportasi dan kemiskinan kota.
Buku ini membahas secara komprehensif tentang carut marut transportasi di Kota Jakarta yang tidak aman dan tidak nyaman, tapi cenderung menjemput maut. Dominasi kendaraan bermotor pribadi, buruknya angkutan umum, terpinggirkannya angkutan tidak bermotor, minimnya fasilitas pejalan kaki, serta makin polutifnya udara Kota Jakarta dari pencemaran kendaraan bermotor merupakan fakta yang tidak terelekan.
Buku ini menegaskan pentingnya kebijakan dan politik transportasi Jakarta yang lebih berpihak pada orang, bukan pada kendaraan saja. Oleh sebab itu, kebijakan transportasi yang memfasilitasi orang perlu lebih banyak dikembangkan, dibanding memfasilitasi kendaraan bermotor pribadi saja. Angkutan tidak bermotor dan pejalan kaki perlu diberi tempat layak.
Buku yang merupakan refleksi dari pengalamannya sehari-hari sebagai pengguna angkutan umum ini secara lugas mendorong diwujudkannya konsep transportasi yang lebih manusiawi, ramah lingkungan dan beradab.

* oleh : (ratman aspari)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bekal Dasar Menjadi Wartawan Profesional

Penulis :  Didiek Danuatmadja  &  W. Suratman Ukuran : 14 x 21 cm Jumlah Hal : i ii + 7 6 hlm ISBN : 978-602-95302-1-6 Cetakan : Pertama (I), Juli 2013 Penerbit : FATH PUBLISHING   Didistributor : PUSTAKA TAUFIQ JURNALISME sebenarnya merupakan ilmu yang tidak layak dipelajari sambil "berjalan". Sebagaimana disiplin ilmu-ilmu yang lain, upaya pemahamannya harus ditempuh dengan cara-cara yang sistematik dan metodis, agar kita bisa menguasainya secara utuh. Buku ini sekadar bahan    pengenalan yang sifatnya sangat elementer. Di dalamnya memang termuat berbagai sisi yang agak kompleks, tetapi, sebenarnya, jauh dari perfeksitas. H al-hal yang elementer itu tadi menjadi lebih minimalis untuk proses pembelajaran dan pengamalannya.   Yang harus dipahami sejak awal, jurnalistik itu sendiri merupakan suatu kegiatan intelektual ilmiah, bukan sekadar "ilmu perjuangan" untuk kanalisasi idealisme, sebagaimana sering didengung-­deng...

Sajak Kota Kota

Judul : Sajak Kota Kota  (Kumpulan Puisi)  Penulis : Rd.Nanoe Anka Penerbit : Metaforma Internusa  Harga : Rp.75.000,- Kota-kota yang disinggahinya memiliki kesan yang mendalam, membekas dan melekat pada lembaran catatan dengan untaian aksara, tertuang dalam sajak yang ditulis oleh, Rd.Nanoe Anka, dalam buku kumpulan puisi berjudl ‘Sajak Kota Kota’ yang menceritakan tempat-tempat yang dikunjungi pada kota-kota besar yang ada di mancanegara, tetapi dari daerah-daerah di Indonesia pun menjadi hal menarik, karena setiap sudut tempat persinggahan terhampar berbagai macam cerita, jika dituangkan ke dalam karya sastra akan tersimpan, terdokumentasi, yang kelak bisa dibaca oleh anak-anak cucu dan generasi penerus di masa mendatang. Pendokumentasian perjalanan yang ditulis Rd. Nanoe Anka dalam bentuk sajak patut diapresiasi, apalagi disisipi sketsa-sketsa yang sebagian diguratnya sendiri. Dari setiap sketsa-sketsa yang digoresnya, secara spontan dengan tinta hitam nampak terlihat...

Keliling Indonesia, Dari Era Bung Karno Sampai SBY

BENARKAH - Bung Karno memiliki “keluarga gelap” dari Ronte ?, Rasa-rasanya musthail, kecuali kalau kabar ini muncul akibat muslihat cerdik seorang jurnalis yang dujuluki ‘Gelap Poyk”. Seorang guru yang membelot menjadi wartawan sekaligus penulis nyeniman, ia juga memiliki sederat ‘profesi’ sampingan lainnya seperti tukang tilep berita, asisten mantri cacar, tentara gadungan, dan pelancong bermodal dengkul. Petualangan nekat itu membawanya ke seantero Indonesia, yang disusurinya hingga pojok-pojok tergelap dan terjoroknya. Dan semua itu dilakoninya demi menghasilkan tulisan yang membuatnya sempat ‘didewakan’ di bumi Pahariyangan dan diangkat anak oleh seorang gubernur sekaligus nyaris dibacok di Jalur Trans Sumatra. Sebuah laporan penjelajahan negeri dengan bahasa yang ringan dan nakal tetapi berbobot dan penuh makna, buku ini dapat menjadi saksi pertumbuhan dan perkembangan beberapa bagian dari negeri ini dari zaman Sukarno sampai SBY. Inilah catatan perjalanan seorang jurnalis petu...